Terima Kasih


Halo, It’s been a long time.

Sudah cukup lama aku nggak me time sambil nulis seperti ini. Akhirnya sekarang nulis sambil meler di tengah malam.

Ini mungkin tulisan pertamaku setelah aku memutuskan buat pindah ke Jogja. Ya, akhirnya aku pindah. Bagaimana perasaanku? Aku juga sebenarnya tidak bisa menuliskannya dengan jelas apa yang bener-bener aku rasakan sekarang. Karena jujur saja, kadang aku merasa senang sekali akhirnya bisa di tempat ini, tapi cukup sering juga aku memikirkan apakah benar kputusan yang sudah aku buat ini.

Mungkin itu buah dari kebiasaanku juga kali, ya? Soalnya kadang aku masih sengaja-nggak-disengaja membanding-bandingkan kehidupanku di Tembalang dan di Jogja. Padahal dulu aku kira aku bakal sangat senang bisa berada di sini sampai kadang lupa sebenarnya kesenangan itu tidak banyak dipengaruhi sama hal-hal di luar diriku, terlebih cuma soal kota dan tempat kuliah. Sekarang aku justru malah sering kangen kehidupanku semasa aku di Tembalang yang ternyata kalau diingat-ingat lagi tidak seburuk itu.

Sekarang jadi tahu, ternyata di Tembalang aku dipertemukan dengan teman-teman yang cukup nyambung diajak ngobrol dan diajak guyon. Teman-teman yang bahkan sampai sekarangpun kita masih sering chat, masih tetap dekat. Ah, aku kangen sekali.

Aku juga diberi saudara-saudara seperantauan yang awalnya kukira tidak akan sepeduli itu padaku.  Yang dulunya paling tidak ingin ku buka grup chat-nya karena entah kenapa selalu membuatku sedih. Sekarang aku jadi tahu kalau ternyata mereka peduli dan cukup berhasil membuatku sedikit melupakan kerinduanku pada rumah. Padahal dulu aku tidak terlalu suka membaca nama perkumpulannya karena membuatku selalu teringat untuk kembali ke perantauan. Tapi nyatanya mereka berhasil membuatku menganggap kalau mereka adalah rumah keduaku di sana. Mereka mau mendengarkan keluhan-keluhanku tanpa memberikan penilaian-penilaian buruk kepadaku-atau mungkin ada tapi aku tidak tahu, tapi semoga tidak dan aku percaya itu tidak. Bahkan mereka  memberikanku kesempatan untuk ikut bersama-sama mengelola keluarga itu. Ini juga adalah salah satu hal yang membuatku kangen.

Juga tempat yang kukira paling menyebalkan, fakultasku. Sekarang aku juga sadar bahwa ternyata aku punya teman-teman yang menyenangkan, aku punya saudara satu organisasi yang cukup progresif dan sangat peduli dan sedikit berhasil membuatku nyaman. Padahal dulunya aku juga tidak terlalu nyaman dengan mereka.

Dan yang terakhir, kosku, yang walaupun lumayan jauh, tapi setelah pindah kesini ternyata tidak mudah mencari kos-kosan yang senyaman itu. Tinggal di sana juga cukup melatihku untuk jadi jauh lebih mandiri daripada aku yang sebelumnya. Ah, kangen!

Ya, mungkin kata-kata Ariana Grande di My Everything bener juga, “you don’t know what you got till it’s gone.”

Mungkin kalau dulu aku mau lebih legowo dan mengurangi ke-denial-anku, aku akan sepenuhnya merasakan kebaikan-kebaikan yang Allah berikan lewat Tembalang ke aku lebih awal. Atau bahkan mungkin aku tidak perlu sampai susah-susah pindah kemari. Hmmmmm.

Kekurang bersyukuranku dan kebiasaan burukku yang selalu melihat ke hal-hal yang tidak kupunya sebagai definisi kebahagiaan ternyata memberikan dampak yang kurang baik ke diriku dan pertimbanganku dalam mengambil keputusan. Tapi, ya, yang sudah, sudah. Aku tidak menyesal. Semoga bisa jadi pelajaran. Mungkin aku akan dapat pelajaran hidup baru di tempat yang baru ini.

Sekarang aku mau mengapresiasi dan bersyukur karena Allah sudah memperkenalkanku dengan kehidupan Tembalang dan segala kesederhanaan serta pelajaran hidupnya. Ketidaknyamanan yang pernah kurasakan di Tembalang sedikit banyak sudah memberiku berbagai pelajaran hidup dan membantuku untuk menjadi aku-yang menurutku-lebih baik dari sebelumnya. Berkat Tembalang juga sekarang akhirnya aku bisa benar-benar meresapi kalimat nothing grows in your comfort zone.

Terimakasih, Tembalang! I used to be that unhappy to be back to you, but right now i’m kind of missing you and can’t wait to see you again.

Komentar