Tentang Pengumuman
Selamat siang,
Barusan membaca sendiri tulisan-tulisanku di blog ternyata
tidak konsisten sekali aku dalam membahasakan diriku, ya? Kadang pakai aku,
kadang pakai saya. Hahaha. Tapi, ya, sudahlah. Lagipula tidak terlalu
bermasalah juga, toh ini blog pribadiku.
Hari ini aku kepengen menulis lagi. Sebenarnya sudah dari
kemarin, sih. Tapi aku gampang sekali kalah dengan kantuk beberapa hari
terakhir. Mungkin karena aku kurang gerak. Hmm.
Beberapa hari yang lalu ada sesuatu hal besar lagi yang
terjadi di hidupku. Aku mendapatkan pengumuman bahwa aku lolos seleksi di
tempat yang sama persis dengan tempat dimana kakakku berkuliah sekarang. Tempat
yang entah apa alasan pastinya pernah sangat kuidam-idamkan.
Bagaimana perasaanku? Senang, tentu. Ada sebagian hatiku
yang merasa puas dan apa, ya? Ada perasaan bangga pada diriku sendiri karena
ternyata aku tidak seburuk yang aku pikirkan selama ini. Tentu juga ini semua
terjadi karena kuasa-Nya. Karena aku benar-benar merasa tidak maksimal dalam
belajar maupun mengerjakan, tapi rupanya Dia Yang Maha Mendengar tetap
mengabulkan doa-doaku. Allah memang tidak pernah berkhianat.
Kadang malu sendiri kalau teringat aku yang dulu, yang
sering sekali menangis karena mungkin aku belum bisa menerima ketetapan-Nya.
Menolak semua kalimat-kalimat ‘sabar’ dan ‘bersyukur’ dari teman-temanku dan
orang-orang lain yang peduli padaku. Tapi sekarang, seiring berjalannya waktu
dan Dia yang tidak henti-hentinya memberikan dan meresapkan ke dalam hatiku
berbagai macam pelajaran dari hidup ini, makna ‘sabar’ dan ‘bersyukur’ yang
sering diucapkan teman-teman dan orang orang di sekitarku jadi lebih
kumengerti.
Sebenarnya ada perasaan lain selain perasaan senang yang aku
rasakan atas pengumuman ini. Ada sedikit rasa ragu dan bingung dalam hatiku. Timbul
banyak pertanyaan yang menghantui pikiranku.
Apakah ini sebuah keputusan yang benar?
Apakah aku benar-benar menyukai hal ini dan ingin
menekuninya atau ini hanyalah pilihan ngawur karena aku sedang kalut-kalutnya
waktu itu?
Bagaimana kalau aku dianggap tidak punya pendirian atau
hanya ikut-ikutan kakakku saja?
Bagaimana aku bisa menghadapi pertanyaan dan anggapan
orang-orang tentang aku yang seperti itu?
Mungkin semuanya bakal ada waktunya sendiri, ya? Allah pasti
kasih aku kemampuan untuk bisa menghadapi kekhawatiranku itu suatu saat nanti
kalau aku benar-benar meminta pada-Nya. Yang jelas aku berharap pada diriku
sendiri untuk tidak menyerah dan tidak membiarkan semua itu terlalu menguasai
hati dan pikiranku yang nantinya mungkin bisa berujung ke suatu hal yang tidak
baik. Semoga Allah mengizinkannya.
Terakhir di tulisan ini, aku pengen menulis pesan penting. Pesan dariku, untuk aku: Jangan lagi mau kalah dengan dirimu
sendiri dan jangan kembali menjadi diri kamu yang tidak kau sukai! Semangat! Everything
shall pass. I love you, me.
Komentar
Posting Komentar