Pikiran tentang Bapak


Perjalanan pikiran saya hari ini berujung ke satu hal, rupanya ayah saya (saya panggil bapak) adalah seorang yang hebat.

Dulu mungkin bapak adalah salah satu orang yang tidak saya sukai. Bapak suka marah-marah. Bahkan saya sampai heran kalau ada teman kantor bapak bilang kalau bapak tidak pernah marah kalau di sekolah. Kebetulan bapak saya guru, jadi kantornya di sekolah.

Iya, sih, bapak suka guyon, tapi sepertinya itu tidak cukup mematahkan pandangan saya tentang bapak yang suka marah-marah waktu itu.

Ketika saya masih kecil, bapak marah-marah kalau saya tidak membereskan mainan saya, marah kalau saya tidak merapikan selimut, dan marah kalau saya tidak menaruh sepatu ke rak. Yang paling konyol adalah bapak marah karena saya terlalu sering ke kamar mandi tengah malam, sampai-sampai dibawa ke dokter. Ternyata saya cuma stress.

Belakangan saya ketahui, ternyata bapak cuma khawatir ke saya.

Ketika saya mulai besar sedikit, rasa tidak suka itu juga masih ada di diri saya. Bapak masih suka marah-marah. Bapak sering menyuruh saya dan kakak saya diam saat kami sedang asyik bercanda malam-malam. Mengganggu kebahagiaan, menurut kami waktu itu.

Ketika saya SMA, saya sekolah di sekolah tempat bapak mengajar. Dan disitu saya justru malah melakukan hal-hal yang saya pikir saya ngawur sekali ke bapak waktu itu. Saya benar-benar menyesali hal itu sekarang.

Semakin saya besar, rasa tidak suka saya semakin mengecil. Justru saya sedikit-sedikit mulai memahami seperti apa bapak saya sebenarnya. Dan itu semua justru menjadikan kekaguman saya terhadap bapak muncul seiring berjalannya hari.

Bapak saya adalah seseorang yang tekun dalam melakukan sesuatu. Tidak pernah dia lakukan pekerjaannya dengan setengah-setengah. Bahkan dalam hal beres-beres rumah. Bapak saya benar-benar melakukan semuanya dengan sepenuh hati.

Saya ingat waktu itu bulik saya bilang, “Bapakmu cen kawit biyen koyo ngono, nek kerja total.”

Mungkin kata-kata bulik saya itu juga yang membuat saya lebih memperhatikan bapak, dan ternyata memang benar.

Kadang malu juga kalau melihat bapak serajin itu sedangkan saya masih sering bermalas-malasan dalam melakukan sesuatu. Duh, maaf ya, pak!

Ketekunan bapak saya juga di approve oleh ibunya, simbah saya. Kemarin saat saya berulang tahun ke-19, simbah saya telepon. Beliau mengucapkan selamat dan menyampaikan doa-doa, harapan, dan pesan-pesannya untuk saya. Salah satunya ya, itu, tentang bapak. Beliau bilang, “Ndang kaya bapak, ya, sing sregep le sekolah karo shalat e barang.

Saya langsung tersentuh mendengar ucapannya. Saya juga jadi paham sesuatu dari ucapan simbah itu. Bahwa untuk membahagiakan orang tua tidak melulu dengan cara yang muluk-muluk. Melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, entah itu untuk urusan akhirat maupun urusan dunia, sepertinya sudah cukup memberikan kebahagiaan untuk mereka.

Ah, semakin menulis saya jadi semakin kangen bapak.

Ada lagi yang saya kagumi juga dari bapak. Bapak selalu berusaha shalat tepat waktu dan selalu berusaha melaksanakannya di masjid. Dimanapun, entah itu sedang makan di luar atau sedang dalam acara apapun, bapak selalu mengusahakannya. Ya, kewajiban laki-laki memang seperti itu. Tapi itu tetap membuat saya kagum, karena bapak istiqamah dalam melaksanakannya. Semoga tetap istiqamah, ya, pak!


Sebenarnya masih banyak sekali hal-hal yang saya kagumi dari bapak dan mungkin masih banyak lagi hal mengagumkan yang ada pada bapak yang mungkin saya belum ketahui sampai sekarang. Saya yakin itu.

Terima kasih, ya, pak. Bapak mengajarkan banyak sekali hal untuk saya. Semoga Allah masih memperkenankan saya untuk memahami dan semakin mengagumi bapak lebih lama lagi sebelum salah satu dari kita harus pulang duluan.

Tidak tahu dengan cara apa lagi saya bisa membalas kebaikan dan kebahagiaan yang Allah berikan melalui bapak selain dengan doa. Semoga doa saya menembus langit. Dan semoga kita masih bisa bahagia bersama-sama lagi di kehidupan selanjutnya, ya, pak!

Komentar